Khadijah: Teladan Sejati dalam Pengabdian Seorang Istri

Dalam sejarah Islam, Khadijah binti Khuwailid adalah sosok istri yang tidak hanya mencintai suaminya, Rasulullah SAW, tapi juga memberikan segalanya demi perjuangan dakwah Islam.

Ketulusan, keikhlasan, dan pengorbanannya menjadi teladan agung bagi kaum muslimah.

Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah wanita terpandang, kaya raya, dan berjiwa besar. Ketika menikah dengan Nabi, usianya 40 tahun, sementara Nabi baru berusia 25 tahun.

Namun usia bukan menjadi penghalang bagi keduanya dalam membina rumah tangga yang penuh cinta dan saling mendukung. Dari Khadijah, Rasulullah SAW memperoleh lima anak.

Semua harta dan kehidupannya diserahkan demi perjuangan Islam. Ia senantiasa mendampingi Nabi SAW dalam suka dan duka.

Saat wahyu pertama turun di Gua Hira, Khadijah-lah yang menenangkan Rasul. Ia memberi dukungan lahir dan batin.

Dalam derita, Khadijah tetap setia. Dalam ancaman, Khadijah tetap sabar. Dalam pengasingan, ia ikut bertahan. Khadijah benar-benar menjalani peran istri dengan penuh pengorbanan.

Surga Istri dalam Ridho Suami

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Jika seorang wanita melaksanakan salat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’”
(HR. Ibnu Hibban)

Tugas seorang istri dalam Islam memang tidak ringan. Namun Allah memberikan “jalan tol” menuju surga bagi wanita: cukup dengan taat kepada suaminya dalam kebaikan, menjaga kehormatan, serta menjalankan kewajiban kepada Allah.

Sebaliknya, Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj pernah melihat mayoritas penghuni neraka adalah wanita.

Ketika Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril tentang sebabnya, Jibril menjawab:

“Mereka banyak yang kufur terhadap suaminya, suka menggunjing, dan memfitnah.”

Emansipasi dalam Pandangan Islam

Sering kali terdengar keluhan bahwa wanita adalah warga kelas dua, berada dalam bayang-bayang pria.

Bahkan dalam isu kesetaraan gender, Islam kerap disalahpahami sebagai agama yang menomorduakan wanita. Padahal, Islam memberikan kedudukan tinggi dan kemuliaan bagi perempuan, selama ia memahami dan menjalankan perannya sesuai kodrat.

Kisah seorang perempuan yang mengadu kepada Rasulullah SAW membuktikan hal ini:

“Ya Rasulullah, saya adalah utusan dari kaum wanita. Kaum laki-laki mendapat pahala jihad dan rampasan perang, bagaimana dengan kami?”

Nabi menjawab:
“Sampaikan kepada kaum wanita yang kamu jumpai, bahwa ketaatan kepada suami dan pengakuan terhadap hak-hak suami sama pahalanya dengan jihad di jalan Allah. Namun sedikit dari kalian yang mengamalkannya.” (HR. Thabrani dalam Az-Zawaajir)

Islam mengakui hak-hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan secara proporsional. Tidak harus sama peran, tetapi nilainya bisa sepadan di sisi Allah.

Seorang wanita tidak perlu berperang seperti laki-laki untuk mendapatkan pahala jihad. Ia cukup menunaikan peran dan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh.

Teladan Khadijah untuk Para Muslimah

Dalam pernikahan, hak dan kewajiban suami istri ibarat dua sisi mata uang. Suami adalah pemimpin ketika di rumah.

Namun ketika ia pergi, istri menjadi penanggung jawab utama. Estafet peran itu berjalan indah, penuh pengertian dan saling mendukung.

Khadijah menunjukkan kepada dunia bahwa menjadi istri bukan soal siapa yang memimpin atau siapa yang lebih berkuasa.

Tetapi siapa yang paling ikhlas dan sabar dalam mengabdi, itulah yang paling mulia.

Ia tidak pernah menuntut haknya. Tapi bertanya dalam hati: “Apa yang bisa saya berikan kepada suami saya?”

Maka yang ia dapatkan adalah cinta sejati dari Rasulullah SAW, cinta yang tak tergantikan bahkan setelah Khadijah wafat.

Sebagaimana sabda Nabi SAW tentang Khadijah:

“Dia (Khadijah) beriman kepadaku saat orang lain ingkar. Dia membenarkanku saat orang lain mendustakan. Dia membantuku dengan hartanya saat orang lain menahannya dariku. Dan darinya aku mendapatkan anak-anak.”
(HR. Ahmad)

Kesadaran dan penghayatan terhadap hak serta kewajiban masing-masing akan menciptakan rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Khadijah telah membuktikannya. Sudah saatnya para muslimah masa kini menjadikannya sebagai panutan. Bukan sekadar cerita sejarah, tapi inspirasi nyata dalam kehidupan rumah tangga modern.***

Pilihan Redaksi

Keutamaan Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua dalam Pandangan Islam

Keutamaan Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua dalam Pandangan Islam

Media sosial seperti TikTok, WhatsApp, Facebook, dan Instagram kini bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar interaktif antara guru dan siswa. LDII dorong penggunaan internet sehat untuk mendukung pendidikan yang dinamis dan relevan.

Manfaat Media Sosial untuk Belajar: Guru dan Siswa Bisa Interaktif Lewat TikTok, WhatsApp, dan Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Mass saran di website nya kasihin pilihan kaya dalil doa" kaya gitu mas biar enak nyarinya+modren

  2. Kayaknya perlu dikoreksi yaa kak lafadznya kayak ada yang kurang lengkap

Yuk, Langganan ?!

Get Free Email Updates!

Loading