SEMARANG (26/7/2025) – Maraknya kekerasan di lingkungan pendidikan, baik antara siswa maupun dari guru kepada murid, mendorong Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
Ketua Umum DPP LDII, Chriswanto Santoso, menyatakan pembentukan tim ini merupakan respons atas meningkatnya kasus kekerasan di satuan pendidikan, termasuk di pesantren.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan terjadi di Jawa Tengah, ketika seorang guru madrasah diniyah di Demak harus menandatangani surat damai dan membayar denda Rp25 juta karena menampar muridnya.
“Permasalahan kekerasan di sekolah adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya guru, tetapi juga orang tua, lingkungan, dan semua pihak terkait,” ujar Chriswanto saat ditemui di Kota Semarang, Sabtu (26/7/2025).
LDII menilai bahwa tanggung jawab moral dan sosial untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja.
Oleh karena itu, TPPK LDII akan melibatkan pihak sekolah, pengasuh, guru ngaji, hingga orang tua, untuk membangun ekosistem yang peduli dan aktif dalam mencegah kekerasan.
“Jangan hanya menyalahkan guru, dan guru pun jangan menyalahkan orang tua. Semua harus ambil bagian agar anak-anak kita tumbuh di lingkungan yang sehat secara emosional,” tegasnya.
Selain membentuk TPPK, LDII juga memperkuat pendidikan karakter melalui kerja sama dengan berbagai lembaga negara. Saat ini, LDII telah menjalin nota kesepahaman dengan MPR RI, Lemhannas RI, dan institusi lainnya untuk menyelenggarakan Sekolah Virtual Kebangsaan.
Menurut Chriswanto, program ini penting sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan wawasan ideologi sejak dini, terutama kepada santri dan pelajar di bawah binaan LDII.
“Maka kami akan membangun program tersebut. Para pemateri akan kami hadirkan dari berbagai lembaga seperti MPR untuk materi Empat Pilar, Lemhannas untuk ketahanan nasional, Jamintel untuk sisi hukum, dan BPIP untuk ideologi Pancasila,” paparnya.
LDII menargetkan Sekolah Virtual Kebangsaan menjadi wadah pendidikan karakter yang menyeluruh, dengan tujuan mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang secara emosional, kuat spiritual, dan cinta tanah air.
“Semua ini bermuara pada bagaimana mewujudkan Indonesia yang tenang dan sejahtera,” pungkas Chriswanto.***
