Siapa bilang media sosial hanya mengganggu proses belajar? Saat ini, justru platform seperti TikTok, WhatsApp, Facebook, dan Instagram—yang sangat akrab dengan keseharian generasi muda—dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar yang menyenangkan dan interaktif jika diarahkan dengan bijak.
Jika sebelumnya diskusi pelajaran terbatas hanya di ruang kelas, kini siswa bisa bertanya kapan saja dan dari mana saja.
Misalnya, saat menemui kendala dalam tugas, siswa cukup mengirim pertanyaan melalui grup WhatsApp atau pesan langsung di Instagram.
Bahkan, jika ada materi sulit seperti rumus matematika atau konsep sains, siswa bisa berbagi video penjelasan atau bertanya langsung kepada teman melalui TikTok atau media sosial lainnya.
Semuanya berlangsung cepat dan efisien, tanpa perlu menunggu keesokan harinya di sekolah.
Sebagai bagian dari kampanye internet sehat dan produktif, LDII mendorong masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan pendidik, untuk memanfaatkan media sosial secara bijak dalam mendukung proses belajar mengajar.
Terdapat beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan guru untuk mengarahkan pemanfaatan media sosial agar bermanfaat dalam dunia pendidikan.
Pertama, penting bagi guru untuk mengetahui platform media sosial apa yang paling sering digunakan siswa. Apakah mereka lebih aktif di WhatsApp, Instagram, atau TikTok?
Dengan mengetahui kebiasaan ini, guru dapat fokus berkomunikasi dan berbagi informasi pada platform yang relevan.
Jika WhatsApp menjadi pilihan utama, maka guru bisa membuat grup kelas sebagai ruang diskusi dan berbagi materi.
Jika siswa lebih sering membuka Instagram atau TikTok, guru dapat menyajikan konten belajar dalam bentuk gambar, video pendek, atau infografis yang menarik.
Kedua, manfaatkan fitur-fitur komunitas yang tersedia. Di WhatsApp dan Facebook, misalnya, fitur grup dapat digunakan untuk diskusi terfokus.
Di Instagram, guru bisa memanfaatkan fitur close friends, highlights, atau siaran langsung untuk menyampaikan pengumuman atau ulasan materi.
Sementara di TikTok, guru dapat mengunggah video penjelasan singkat, tips ujian, atau tantangan edukatif yang merangsang partisipasi aktif dari siswa.
Untuk memudahkan pencarian konten, gunakan pula tagar yang relevan, misalnya untuk mengelompokkan materi sesuai mata pelajaran atau kelas.
Ketiga, guru perlu memberikan pemahaman tentang etika bermedia sosial, terutama dalam hal menjaga privasi dan membedakan mana informasi yang layak dibagikan kepada publik dan mana yang hanya untuk lingkungan sekolah.
Hal ini penting untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan informasi, menjaga kenyamanan semua pihak, serta menghindari potensi miskomunikasi di ruang digital.
Pemanfaatan media sosial dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara maju, pendekatan ini telah banyak diterapkan untuk mendukung model pembelajaran hybrid, memperkuat komunikasi dua arah antara guru dan siswa, serta menumbuhkan keterlibatan belajar di luar ruang kelas.
Dengan pendekatan yang kreatif dan arahan yang tepat, media sosial bukan lagi menjadi ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan peluang besar untuk menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis, fleksibel, dan relevan dengan zaman.
Jika media sosial digunakan dengan kesadaran dan tanggung jawab, maka proses belajar pun akan semakin menyatu dalam keseharian siswa.
Mereka tidak hanya menjadi pengguna aktif media sosial, tetapi juga pembelajar aktif yang siap menghadapi masa depan.***
