Doa adalah hal yang tidak asing dalam kehidupan seorang Muslim. Namun meskipun akrab, tidak semua doa memiliki nilai yang sama di sisi Allah.
Ada doa yang panjang dan khidmat, ada pula yang pendek dan terburu-buru.
Ada yang dipanjatkan dengan sepenuh hati, ada juga yang sekadar basa-basi — sekadar memenuhi kewajiban atau pelengkap ibadah.
Sebagian orang menjadikan doa sebagai tempat berlindung saat hati sedang sempit, namun lupa untuk memperbanyaknya saat hidup terasa lapang.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang senang jika doanya dikabulkan oleh Allah saat sedang susah, maka perbanyaklah doa saat dalam kelapangan.” (HR. Tirmidzi).
Namun realitanya, banyak dari kita melafalkan doa dengan tergesa-gesa, tanpa makna, dan kadang dalam keadaan setengah sadar.
Tidak jarang, kita sendiri lupa apa yang telah didoakan, apalagi memahami maknanya.
Kita sibuk mengejar jumlah: tiga kali, tujuh kali, seratus kali—namun lupa pada kekhusyukan dan kualitas.
Dalam satu sisi kehidupan, ada yang iri bukan karena harta, tetapi karena indahnya doa yang pernah didengar—namun sulit dihafal dan diamalkan.
Setiap kali menemukan doa yang baru dan menyentuh, muncul keinginan untuk mengamalkannya.
Tapi apa daya, doa-doa sebelumnya sudah terabaikan, belum sempat diamalkan dengan utuh. Begitu terus berulang.
Apakah ini tanda bahwa kita terlalu sering gonta-ganti doa? Bisa jadi.
Tapi sejauh itu datang dari kerinduan untuk berdoa lebih baik, semoga tetap menjadi amal baik.
Karena dari sekian banyak doa, biasanya seseorang memiliki satu dua yang menjadi “menu utama” dalam hidupnya—yang ia bawa terus setiap hari.
Namun sangat jarang ada yang mau berdoa seperti Nabi Muhammad SAW:
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama orang-orang miskin.”
Doa yang sangat dalam, tetapi tidak populer karena fitrah manusia cenderung menjauhi kemiskinan.
Padahal esensi dari doa bukanlah permintaan duniawi semata, melainkan pengakuan atas kelemahan diri dan pengharapan sepenuhnya kepada Allah.
Maka, kita perlu melatih doa bukan hanya dari segi hafalan dan jumlah, tapi juga dari sisi kehadiran hati: khusyuk, sadar, dan yakin.
Menuju Doa untuk Negeri
Dari berbagai bentuk dan ragam doa yang kita panjatkan, satu hal yang sepatutnya menjadi prioritas adalah mendoakan bangsa dan masyarakat kita sendiri.
Sebab, hidayah tidak hanya dibutuhkan secara individu, tetapi juga secara kolektif sebagai bangsa.
Salah satu doa yang bisa menjadi pengingat dan pengikat ukhuwah bagi kita semua adalah:
اللّٰهُمَّ اهْدِنَا وَاهْدِ هٰٓؤُلَٓاءِ اْلإِنْدُوْنِسِيِّيْنَ، وَمَنْ مَعَهُمْ لِلْإِيْمَانِ، وَالْإِسْلاَمِ، وَالْجَمَاعَةِ، وَالنَّصِيْحَةِ، وَالْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ، وَاْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَأَلِّفْ بَيْنَهُمْ، وَفِي تِلْكَ الْهِدَايَةِ فَارْزُقْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dan kepada seluruh masyarakat Indonesia beserta negara-negara lainnya pada keimanan, Islam, berjamaah, nasihat, budi pekerti luhur, perbuatan yang baik dan satukanlah mereka. Dan di dalam menetapi hidayah, berikanlah rizki dan barokah kepada mereka.”
Semoga kita bisa menjadi bagian dari jawaban atas doa-doa yang kita panjatkan.
Bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan usaha nyata dan akhlak yang selaras dengan isi doa itu sendiri.***
