Sidoarjo – Sengketa lahan Tambak Oso seluas sekitar 9 hektar di Sidoarjo memasuki fase sensitif.
Menyadari potensi gesekan antar kelompok masyarakat, DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur mengambil langkah diplomatis dengan menemui Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Grahadi Surabaya, Selasa (30/12).
Latar Belakang Sengketa
Kasus Tambak Oso berawal dari penjualan ulang aset oleh pihak yang terjerat kasus penipuan kepada PT Kejayan.
Perkembangan terbaru, PT Kejayan disebut mewakafkan lahan tersebut ke PCNU secara sepihak.
Langkah ini dinilai berisiko menimbulkan kesan adu domba antar organisasi Islam.
Langkah LDII
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Ir. KH. Moch. Amrodji Konawi, SE., MT., IPM., bersama tim hukum LDII, hadir di Grahadi untuk menyampaikan pesan utama: persoalan hukum jangan dibiarkan berubah menjadi konflik horizontal.
Dialog yang Buntu
Sebelumnya, KH. Amrodji bertemu KH. Masduki di RM Tempo Doloe, Tegalsari, Senin malam (29/12).
Pertemuan membahas rencana kegiatan di atas lahan yang masih dipersoalkan status hukumnya.
Namun, pembicaraan tidak menghasilkan kesepahaman. KH. Masduki meminta lahan dikosongkan untuk peletakan batu pertama dan istighosah, sementara LDII menolak karena menganggap lahan tersebut milik sah jamaah.
Pesan Utama LDII
Dalam pertemuan dengan Gubernur, LDII menegaskan bahwa ormas Islam tidak boleh dijadikan alat kepentingan atas tanah bermasalah.
Hubungan NU dan LDII selama ini harmonis, sehingga jangan diprovokasi oleh pihak berkepentingan.
KH. Amrodji juga mengingatkan adanya modus mafia tanah dengan mengatasnamakan wakaf tanpa dasar hukum jelas.
Sikap LDII
LDII memberikan advokasi moral dan hukum kepada warga yang mengklaim sebagai pemilik sah, dengan menegaskan bahwa lahan dibeli dari dana jamaah secara halal dan transparan.
Meski demikian, LDII tidak mengambil posisi sebagai pihak bersengketa, melainkan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian melalui jalur hukum tanpa tekanan massa.
Kondisi Lapangan
KH. Amrodji memastikan situasi di Tambak Oso tetap terkendali dan tidak ada insiden. Ia mengajak umat Islam di Jawa Timur untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, serta menjaga persaudaraan.
Sikap Apresiatif LDII
LDII mengapresiasi aparat keamanan, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat yang menjaga kondusifitas.
“Persatuan umat jauh lebih penting daripada kepentingan sesaat,” tegas KH. Amrodji dalam tausiyahnya.***


