Pontianak (26/4/2025) – Buku “Nilai-Nilai Kebajikan Jamaah LDII: Dari Amal Saleh Hingga Kemandirian, Menggali dan Mengkreasikan Hikmah Dalam Kehidupan” dibedah dalam sebuah forum yang digelar di Aula Asrama Haji Pontianak.
Penulis buku, Ustaz Dr. Ahmad Ali, hadir langsung memaparkan isi dan latar belakang penulisan karyanya.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak Prof. Hermansyah, MA, Sekretaris ICMI Kalbar Aida Mochtar, M.Hum, serta Ketua SatuPena Kalbar Rosadi Jamani, M.Si. yang bertindak sebagai moderator.
“Buku ini berangkat dari riset lapangan melalui observasi langsung di lingkungan jamaah LDII, baik di pesantren, masjid, maupun sekretariat. Saya temukan ada sebelas nilai kebajikan yang dipraktikkan warga LDII,” ungkap Ahmad Ali.
Salah satu nilai kebajikan yang unik, menurutnya, adalah penggunaan istilah “Amal Saleh” atau disingkat “Amsol” dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat meminta bantuan.
“Penggunaan kata Amsol tidak terkesan menyuruh, tapi mengandung muatan ibadah. Jadi bisa dikatakan, password-nya LDII itu Amsol,” jelasnya.
Sebelas nilai kebajikan yang tercantum dalam buku tersebut mencakup: amal saleh, kebersihan dan kerapian, disiplin, solidaritas, musyawarah, penghormatan terhadap tamu, kerja sama, ukhuwah (persaudaraan), kepedulian sosial, dan kemandirian.
Ahmad menegaskan bahwa nilai-nilai itu bukan hanya konsep, tetapi telah menjadi budaya yang hidup dalam keseharian jamaah LDII.
Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto, menyampaikan bahwa kehadiran Ahmad Ali ke Kalbar dimanfaatkan untuk membedah buku akademik tersebut.
“Sebagai akademisi, beliau tentu punya parameter tersendiri dalam menyusun karya ilmiah. Kami sangat mengapresiasi kehadiran dan kontribusinya,” ujarnya.
Susanto juga menilai bahwa tema buku sejalan dengan misi LDII dalam membentuk sumber daya manusia profesional religius.
“Kami menerapkan 29 karakter yang mencakup dimensi agama, sosial, dan etika. Ini adalah bagian dari dakwah kami yang murni dengan semangat menebar kebaikan,” tambahnya.
Kegiatan ini juga menjadi ajang ta’aruf (saling mengenal) antara LDII dengan masyarakat luas, termasuk ormas Islam, lembaga dakwah kampus, dan tokoh masyarakat.
“Kami sadar bahwa LDII masih menerima catatan kritis dari sejumlah kalangan. Karena itu, kami ingin membuka diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada,” kata Susanto.
Sekretaris MUI Kalbar, Muhammad Sani, turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini.
“Bedah buku ini sangat baik karena memberikan wawasan bahwa LDII memiliki nilai-nilai lebih yang patut diapresiasi, meskipun tentu masih ada ruang untuk perbaikan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan membuka ruang dialog, semua pihak dapat saling memahami dan bersama membangun umat.
“MUI sangat menghargai upaya LDII dalam membuka ruang ini,” tutupnya.
